
Cerita Dewasa Mertua dan Menantu Perempuan. Frans, 56 tahun, dengan perutnya yang gendut
Diketuknya pintu depan dan Ester,
menantu perempuannya yang berumur 24 tahun, muncul dengan memakai celana
pendek putih dan kemeja biru dengan hanya tiga kancing atasnya yang
terpasang, memperlihatkan perutnya yang rata. Rambutnya yang berombak
tergerai sampai bahunya dan mata indahnya terbelalak menatapnya.
“Papi, aku pikir Papi baru datang besok,
mari masuk”, katanya sambil berbalik memberi Frans sebuah pemandangan
yang indah dari pantatnya.
Dengan tingginya yang 175 itu, dia
terlihat sangat cantik. Dia mempunyai figur sempurna yang membuat lelaki
mana pun akan bersedia mati untuk dapat bercinta dengannya.
“Johan masih di kantor, sebentar lagi pasti pulang.”
“Kupikir aku hanya tidak mau ketinggalan bus”, kata Frans sambil duduk.
“Tidak apa-apa”, jawab Ester sambil membungkuk ke depan untuk mengambil sebuah mug di atas meja kopi.
“Kupikir aku hanya tidak mau ketinggalan bus”, kata Frans sambil duduk.
“Tidak apa-apa”, jawab Ester sambil membungkuk ke depan untuk mengambil sebuah mug di atas meja kopi.
Dengan hanya tiga kancing yang
terpasang, itu memberi Frans sebuah pemandangan yang bagus akan
payudaranya, kelihatan sempurna. Memperhatikan hal tersebut menjadikan
Frans ereksi dengan cepat, dan dia harus lebih berhati-hati untuk
menyembunyikan reaksi tubuhnnya. Ester duduk di sofa di depan Frans dan
menyilangkan kakinya, memperlihatkan pahanya yang indah. Posisi duduknya
yang demikian membuat pusarnya terlihat jelas ketika dia mulai bertanya
pada Frans tentang perjalanannya dan bagaimana keadaannya.
“Perjalanan yang melelahkan”, Frans
menjawab sambil matanya menjelajahi dari kepala hingga kaki pada
keindahan yang sedang duduk di depannya.
Sudah lebih dari 5 tahun sejak Frans
berhubungan seks untuk terakhir kalinya. Setelah isterinya meninggal,
Frans sering mencari wanita panggilan. Tetapi hal itu semakin membuat
hutangnya menumpuk, dan dia tidak mampu lagi untuk membayarnya. Ester
menyadari kalau kemejanya memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya pada
mertuanya, maka dia dengan cepat segera membetulkan kancing kemejanya.
“Aku harus ke atas, mandi dan segera menyiapkan makan malam. Anggap saja rumah sendiri”, katanya sambil berjalan naik ke tangga.
Mata Frans mengikuti pantat kencangnya
yang bergoyang saat berjalan di atas tangga dan dia tahu bahwa dia
memerlukan beberapa ‘format pelepasan’ dengan segera. Kemudian telepon
berbunyi. Frans mengangkatnya.
“Halo”
“Hallo, ini Papi ya?”, itu Johan.
“Ya Jo”, jawab Frans.
“Pi, aku khawatir harus meninggalkan Papi untuk urusan bisnis dan mungkin nggak akan kembali sampai Senin. Ada keadaan darurat. Maafkan aku soal, ini tapi Papi bisa kan bilang ini ke Ester, aku harus mengejar pesawat sekarang. Maafkan aku tapi aku akan telepon lagi nanti”.
“Hallo, ini Papi ya?”, itu Johan.
“Ya Jo”, jawab Frans.
“Pi, aku khawatir harus meninggalkan Papi untuk urusan bisnis dan mungkin nggak akan kembali sampai Senin. Ada keadaan darurat. Maafkan aku soal, ini tapi Papi bisa kan bilang ini ke Ester, aku harus mengejar pesawat sekarang. Maafkan aku tapi aku akan telepon lagi nanti”.
Mereka saling mengucapkan salam lalu
menutup teleponnya. Lalu Frans memutuskan untuk menaruh koper-kopernya.
Dia berjalan ke atas, melewati kamar tidur utama, terdengar suara orang
yang sedang mandi. Frans menaruh koper-kopernya dan pelan-pelan membuka
pintu kamar tidur itu lalu menyelinap masuk. Ada sepasang celana jeans
berwarna biru di atas tempat tidur, dan sebuah atasan katun berwarna
putih.
Frans mengambil atasan itu dan menemukan
sebuah pakaian dalam wanita di bawahnya. Ini sudah cukup. Diambilnya
celana dalam itu, membuka resluiting celananya, dan mulai menggosok
kemaluannya dengan itu. Jantungnya berdebar mengetahui bahwa menantu
perempuannya sedang berada di kamar mandi di sebelahnya selagi dia
sedang menggunakan celana dalamnya untuk ‘sarana pelepasan’ dirinya.
Dipercepatnya gerakannya sambil mencoba membayangkan seperti apa Ester
saat di atas tempat tidur, dan bagaimana rasanya mendapatkan Ester
bergerak naik turun pada penisnya.
Frans hampir dekat dengan klimaksnya
ketika dia mendengar suara dari kamar mandi berhenti. Dengan cepat Frans
meletakkan pakaian itu ke tempatnya semula dan keluar dari kamar itu.
Dia menutup pintunya, tapi masih membiarkannya sedikit terbuka. Baru
saja dia keluar, Ester muncul dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang
membungkus tubuhnya. Frans bisa langsung orgasme hanya dengan
melihatnya dalam balutan handuk itu, lalu dia tahu dia akan mendapatkan
yang lebih baik lagi.
Ester melepas handuknya, membiarkannya
jatuh ke lantai, tidak mengetahui kalau mertuanya yang terangsang sedang
mengintip tiap geraknya. Dia mendekat ke pintu, saat dia pertama kali
melihatnya Frans memperoleh sebuah pemandangan yang sempurna dari pantat
yang sangat indah itu. Kemudian Ester memutar tubuhnya yang semakin
mempertunjukkan keindahannya. Vaginanya terlihat cantik sekali dihiasi
sedikit rambut dan payudaranya kencang dan sempurna, seperti yang
dibayangkan Frans. Dia mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan
handuk, membuat payudaranya sedikit tergoncang dari sisi ke sisi. Frans
menurunkan salah satu kopernya dan menggunakan tangannya untuk mulai
mengocok penisnya lagi. Ester yang selesai mengeringkan rambutnya,
mengambil celana dalamnya dan membungkuk ke depan untuk memakainya.
Saat melakukannya, Frans mendapatkan
sebuah pemandangan yang jauh lebih baik dari pantatnya, dan dia tidak
lagi mampu mengendalikan dirinya, dia bisa langsung masuk ke dalam sana
dan menyetubuhinya dari belakang. Lubang anusnya yang berwarna merah
muda terlihat sangat mengundang ketika pikiran Frans membayangkan apa
Ester mengijinkan putranya memasukkan penisnya ke dalam lubang itu.
Ketika dia membungkuk untuk memakai jeansnya, gravitasi mulai
berpengaruh pada payudaranya. Penglihatan ini mengirim Frans ke garis
akhir, saat dia menembakkan spermanya ke seluruh celana dalamnya.
Pelan-pelan Frans mengemasi baarang-barangnya dan dengan cepat memasuki
kamarnya sendiri untuk berganti pakaian.
Sesudah makan malam, mereka berdua pergi ke ruang keluarga untuk bersantai.
“Kenapa tidak kita buka sebotol wine.
Aku menyimpannya untuk malam ini buat Johan tapi karena sekarang dia
tidak pulang sampai hari Senin, kita bisa membukanya”, kata Ester sambil
berjalan ke lemari es.
“Ide yang bagus”, jawab Frans memperhatikan Ester membungkuk ke depan untuk mengambil botol wine.
“Ide yang bagus”, jawab Frans memperhatikan Ester membungkuk ke depan untuk mengambil botol wine.
Ketika Ester mengambil gelas di atas
rak, atasan putihnya tersingkap ke atas, memberi sebuah pandangan yang
bagus dari tubuhnya. Atasannya menjadikan payudaranya terlihat lebih
besar dan jeansnya menjadi sangat ketat, memperlihatkan lekukan
tubuhnya. Frans tidak bisa menahannya lagi. Dia harus bisa
mendapatkannya. Sebuah rencana mulai tersusun dalam otak mesumnya.
Dua jam berbicara dan mulai mabuk saat
alkohol mulai menunjukkan efeknya pada Ester. Dengan cepat topik
pembicaraan mengarah pada pekerjaan dan bagaimana Ester sedang mengalami
stress belakangan ini.
“Kenapa kamu tidak mendekat kemari dan aku akan memijatmu”, tawar Frans.
Ester dengan malas berkata ya dan
pelan-pelan mendekat pada Frans dan berbalik pada punggungnya lalu
tangan Frans mulai bekerja pada bahunya.
“Oohh, ini sudah terasa agak baikan”, dia merintih.
Frans tetap memijat bahunya ketika
perasaan mendapatkan Ester mulai mengaliri tubuhnya, membuat penisnya
mengeras. Mata Ester kini terpejam saat dia benar-benar mulai menikmati
apa yang sedang dilakukan Frans pada bahunya. Pantatnya kini berada di
atas penis Frans, membuat Frans ereksi penuh.
“Oohh, aku tidak bisa percaya bagaimana leganya perasaan ini, Papi sungguh baik”.
“Ini keahlianku”, jawab Frans saat dia pelan-pelan mulai menggosokkan penisnya ke pantat Ester.
“Ini keahlianku”, jawab Frans saat dia pelan-pelan mulai menggosokkan penisnya ke pantat Ester.
Ester menyadari apa yang sedang terjadi.
Dia tidak menghiraukan apa yang Frans lakukan dengan pijatannya yang
mulai ‘salah’ itu. Dia sangat mencintai suaminya dan tidak pernah akan
mengkhianati dia. Dan bayangan tidur dengan mertuanya sangat
menjijikkannya. Dia meletakkan kedua tangannya pada kaki Frans saat
mencoba untuk melepaskan dirinya dari penis Frans. Tapi dengan gerakan
malasnya, hanya menyebabkannya menggerakkan pantatnya naik turun selagi
dia menggunakan tangannya untuk menggosok paha Frans. Tahu-tahu dia
merasa sangat bergairah, dan dia ingin Johan ada di sini agar dia bisa
segera bercinta dengannya. Frans tahu bahwa dia telah mendapatkannya.
“Ini mulai terasa tidak nyaman untuk aku, kenapa kita tidak pergi saja ke atas”, ajak Frans.
“Baiklah, aku belum merasa lega benar, tapi sebentar saja ya, sebab aku tidak mau membuat Papi lelah”.
“Baiklah, aku belum merasa lega benar, tapi sebentar saja ya, sebab aku tidak mau membuat Papi lelah”.
Ketika mereka memasuki kamar tidur,
Frans memintanya untuk membuka atasannya agar dia bisa menggosokkan
lotion ke punggungnya. Dia setuju melepasnya dan dia memperlihatkan bra
putihnya yang menahan payudaranya yang sekal. Gairahnya terlihat dengan
puting susunya yang mengeras yang dengan jelas terlihat dari bahan bra
itu. Apa yang Ester kenakan sekarang hanya bra dan jeans ketatnya, yang
hampir tidak muat di pinggangnya. Ester rebah pada perutnya ketika Frans
menempatkan dirinya di atas pantatnya.
“Begini jadi lebih mudah untukku”, kata
Frans saat dia dengan cepat melepaskan kemejanya dan mulai untuk
menggosok pinggang dan punggung Ester bagian bawah. Alkohol telah
berefek penuh pada Ester ketika dia memejamkan matanya dan mulai jatuh
tertidur.
“Oohh Johan”, dia mulai merintih.
“Oohh Johan”, dia mulai merintih.
Frans tidak bisa mempercayainya. Di
sinilah dia, setelah 5 tahun tanpa seks, di atas tubuh menantu
perempuannya yang cantik dan masih muda dan yang dipikirnya dia adalah
suaminya. Pelan-pelan dilepasnya celananya sendiri, dan membalikkan
tubuh Ester. Frans pelan-pelan mencium perutnya yang rata saat dia mulai
melepaskan jeans Ester dengan perlahan. Vagina Ester kini mulai basah
saat dia bermimpi Johan menciumi tubuhnya.
Dengan hati-hati Frans melepas jeansnya
dan mulai menjalankan ciumannya ke atas pahanya. Ketika dia mencapai
celana dalam yang menutupi vaginanya, dia menghirup bau harumnya, dan
kemudian sedikit menarik ke samping kain celana dalam yang kecil itu dan
mencium bibir vagina merah mudanya. Vaginanya lebih basah dari apa yang
pernah Frans bayangkan. Ester menggerakkan salah satu tangannya untuk
membelai payudaranya sendiri, sedang tangan yang lainnya membelai rambut
Frans.
“Oohh Johan”, dia merintih ketika
sekarang Frans menggunakan lidahnya untuk menyelidiki vaginanya.
Penisnya akan meledak saat dia mulai menjalankan ciumannya ke atas
tubuhnya.
“Jangan berhenti”, bisik Ester.
“Jangan berhenti”, bisik Ester.
Dia sekarang menggerakkan penisnya naik
turun di gundukannya, merangsangnya. Hanya celana dalam putih kecil yang
menghalanginya memasuki vaginanya. Frans lebih melebarkan paha Ester,
dan kemudian mendorong celana dalam itu ke samping saat dia menempatkan
ujung penisnya pada pintu masuknya. Pelan-pelan, di dorongnya masuk
sedikit demi sedikit ketika Ester kembali mengeluarkan sebuah rintihan
lembut.
Sudah sekian lama dia menantikan sebuah
persetubuhan yang panas, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan
‘memasuki’ menantu perempuannya yang cantik. Dia menciumi lehernya saat
menusukkan penisnya keluar masuk. Dia mulai meningkatkan kecepatannya,
saat dia melepaskan branya. Frans mencengkeram kedua payudara itu dan
menghisap puting susunya seperti bayi. Perasaan ini tiba-tiba membawa
Ester kembali pada kenyataan saat dia membuka matanya. Dia tidak bisa
percaya apa yang dia lihat. Mertuanya sedang berada di atas tubuhnya,
mendorong keluar masuk ke vaginanya dengan gerakan yang mantap, dan yang
paling buruk dari semua itu, dia membiarkannya terjadi begitu saja.
Frans melihat matanya terbuka, maka dia
memegang kaki Ester dan meletakkannya di atas bahunya dengan jari
kakinya yang menunjuk lurus ke atas. Kini dia menyetubuhinya untuk
segala miliknya yang berharga.
“Oh tidak.. Hentikan.. Oh.. Tuhan.. Kita
tidak boleh.. Tolong.. Oohh”, Ester berteriak. Payudaranya terguncang
seperti sebuah gempa bumi ketika Frans menyetubuhinya layaknya seekor
binatang.
“Hentikan Pi.. Ini tidak benar.. Oohh Tuhan”, Ester berteriak dengan pasrah.
“Hentikan Pi.. Ini tidak benar.. Oohh Tuhan”, Ester berteriak dengan pasrah.
Frans melambat, dia menunduk untuk
mencium bibir Ester. Lutut Ester kini berada di sebelah kepalanya
sendiri saat dia menemukan dirinya malah membalas ciuman Frans. Sesuatu
telah mengambil alihnya. Lidah mereka kini mengembara di dalam mulut
masing-masing ketika mereka saling memeluk dengan erat. Frans menambah
lagi kecepatannya dan keluar masuk lebih cepat dari sebelumnya, Ester
semakin menekan punggungnya. Frans berguling dan Ester kini berada di
atas, ‘menunggangi’ penis Frans.
“Oh Tuhan, Papi merobekku”, kata Ester ketika dia meningkat gerakannya.
“Kamu sangat rapat, aku bertaruh Johan pasti kesulitan mengerjai kamu”, jawabnya.
“Kamu sangat rapat, aku bertaruh Johan pasti kesulitan mengerjai kamu”, jawabnya.
Ini adalah vagina paling rapat yang
pernah Frans ‘kerjai’ setelah dia mengambil keperawanan isterinya. Dia
meraih ke atas dan memegang payudaranya, meremasnya bersamaan lalu
menghisap puting susunya lagi.
“Tolong jangan keluar di dalam.. Oohh.. Papi tidak boleh keluar di dalam”.
Ester kini menghempaskan Frans jadi
gila. Mereka terus seperti ini sampai Frans merasa dia akan orgasme. Dia
mulai menggosok beberapa cairan di lubang pantat Ester. Dia kemudian
menyuruh Ester untuk berdiri pada lututnya saat dia bergerak ke
belakangnya, dengan penisnya mengarah pada lubang pantatnya.
“Tidak, punya Papi terlalu besar, aku belum pernah melakukan ini, Tolong Pi jangan”, Ester mengiba berusaha untuk lolos.
Tetapi itu tidak cukup untuk Frans. Sambil memegangi pinggulnya, dengan satu dorongan besar dia melesakkan semuanya ke dalam pantat Ester.
“Oohh Tuhan”, Ester menjerit, dia mencengkeram ujung tempat tidur dengan kedua tangannya.
Tetapi itu tidak cukup untuk Frans. Sambil memegangi pinggulnya, dengan satu dorongan besar dia melesakkan semuanya ke dalam pantat Ester.
“Oohh Tuhan”, Ester menjerit, dia mencengkeram ujung tempat tidur dengan kedua tangannya.
Frans mencabut pelan-pelan dan kemudian
mendorong lagi dengan cepat. Payudaranya tergantung bebas, tergguncang
ketika Frans mengayun dengan irama mantap.
“Oohh Papi bangsat”.
“Aku tahu kamu suka ini”, jawab Frans, dia mempercepat gerakannya.
“Aku tahu kamu suka ini”, jawab Frans, dia mempercepat gerakannya.
Ester tidak bisa percaya dia sedang menikmati sedang ‘dikerjai’ pantatnya oleh mertuanya.
“Lebih keras”, Ester berteriak, Frans
memegang payudaranya dan mulai menyetubuhinya sekeras yang dia mampu.
Ditariknya bahu Ester ke atas mendekat dengannya dan menghisapi
lehernya.
“Aku akan keluar”, teriak Frans.
“Tunggu aku “, jawabnya.
“Aku akan keluar”, teriak Frans.
“Tunggu aku “, jawabnya.
Frans menggunakan salah satu tangannya
untuk menggosok vaginanya, dan kemudian dia memasukkan dua jari dan
mulai mengerjai vaginanya. Ester menjerit dengan perasaan nikmat
sekarang saat dalam waktu yang bersamaan telepon berbunyi. Ester
menjatuhkan kepalanya ke bantal ketika Frans mengangkat telepon, dengan
satu tangan masih menggosok vaginanya.
“Halo.. Johan.. Ya dia menyambutku
dengan sangat baik.. Ya aku akan memanggilnya, tunggu”, katanya saat dia
menutup gagang telepon supaya Johan tidak bisa dengar suara jeritan
orgasme istrinya.
Dia bisa merasakan jarinya dilumuri
cairan Ester. Dengan satu dorongan terakhir dia mulai menembakkan
benihnya di dalam lubang pantat Ester. Semprotan demi semprotan menembak
di dalam lubang pantat rapat Ester. Mereka berdua roboh ke tempat
tidur, Frans di atas punggung Ester. Penisnya masih di dalam, satu
tangan masih menggosok pelan vagina Ester yang terasa sakit, tangan yang
lain meremas ringan payudaranya.
“Halo Johan”, kata Ester mengangkat telepon.
“Tidak, kita belum banyak melakukan kegiatan.. Jangan cemaskan kami, hanya tolong usahakan pulang cepat.. Aku mencintaimu”.
“Tidak, kita belum banyak melakukan kegiatan.. Jangan cemaskan kami, hanya tolong usahakan pulang cepat.. Aku mencintaimu”.
Dia menutup dan menjatuhkan telepon itu.
Mereka berbaring di sana selama lima menitan, Frans masih di atas,
nafas keduanya berangsur reda. Frans mencabut jarinya yang berlumuran
sperma dan meletakkannya ke mulut Ester. Dia menghisapnya hingga kering,
dan kemudian bangun.
“Aku pikir lebih baik Papi keluar”, dia berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia berjalan sempoyongan ke arah kamar
mandi itu. Rambutnya berantakan. Frans bisa melihat cairannya yang
pelan-pelan menetes turun di pantatnya, dan menurun ke pahanya.

